20181225_080225[1]

Kasih, hendaknya kita tak saling melupakan. Derai rintik hujan baru saja menghampiri dan kembali menari serta berdansa di pekatnya langit malam. Dini hari ini dan aku belum lagi beranjak dari kesadaranku tentang hadirmu di hati. Apakah cinta? Apakah sayang? Apakah rindu ada di peraduanmu memendam rasa yang sama. Hingga datang hari ini penuh dengan anganmu dibenakku. Duhai rembulan yang mempesona melintasi cakrawala, sampaikan salamku pada dia yang selalu menjadi bayang di pelupuk mataku ketika terpejam. Menarinya pena di lembayung langit, aku yang masih merindukanmu, masih seperti ketika awal kita berjumpa, masih menggelora rasa yang ada, engkau adalah awal dan akhir dari segalaku. Inginku memelukmu hingga pagi menjelang, menghangatkan malam – malam panjangmu. Hingga kelak segala yang tertoreh di lembaran ini adalah tentang malam – malam panjang kita.

Cinta, saat ini gemuruh dihatiku sangat kuat terasa, tak kuasa menahannya tanpa dirimu. Di saat seperti inilah engkau tampil sebagai pelipur laraku. Perjalananan kasunyatan ini begitu berarti dengan hadirnya dirimu menemani hari – hariku. Saling mencintai dalam jarak ini memenuhi keseharianku, kelak ketika engkau menjadi milikku, ingin kupastikan bahwa diriku adalah milikmu jua, utuh seluruh. Tak ada yang bisa kujanjikan selain hamparan cerita kecil kita di sela – sela kesibukan yang ada. Pesan – pesan kecil yang mengalir setiap harinya menjadi penyemangatku menempuh kesibukan sehari – harinya dan akhirnya hubungan kitapun mulai lentur dan lembut. Senang rasanya bisa bebas mengutarakan keinginan kita satu sama lainnya, agar itu semua terjaga dengan baik, maka tak kubiarkan segalanya menjadi sia – sia belaka.

Masih teringat ketika aku mengetuk pintu kamarmu dan kamu baru bangun tidur, masih kucel tapi tetap cantik hehehehhe 😀 Biarlah pagiku menjadi ritual bagi kita untuk membangunkan kamu tidur, karena memang menjadi tulang punggung keluarga terasa berat dan butuh pendamping yang sabar serta telaten untuk menghantarkan segala harapanmu ke angkasa. Sejenak sujudkan sebuah harapan agar kita menyatu, sesaat memasuki ruang harapan lagi untuk menasbihkan rinduku kepadamu, karena hanya kepada Sang Khalik aku bisa sandarkan harapanku pada dirimu. Bersabarlah cinta, tak lama lagi kita berjumpa dan penantian ini ingin kuindahkan sebagai kisah kasih asmara kita berdua. Dan kemudian engkau terlelap dalam peraduan dingin selepas hujan, derai rintik hujan membasuh lelah kita berdua setelah beraktivitas seharian. Dalam doa aku ingin menitipkan rasa yang ada, dalam sujudku ingin kuhamparkan sebuah harapan yang menggelora di dada, yang kelak berisi tentangmu.

Di sudut senyum simpulmu, aku menemukan segenap harapan yang menghadirkan kebahagiaan kita bersama. Di tatapan matamu yang penuh gairah dan semangat, aku menemukan arti hidupku untuk memperjuangkanmu menjadi pendampingku. Ya, aku bagaikan si pungguk merindukan rembulan yang hendak menggapai angan dan harapan. Sementara semua hanya khayalan, kusematkan sebait doa untukmu, untuk kebaikan dirimu dan kenyamanan hatimu ketika bersamaku. Tak ingin segalanya berlalu tanpa ada makna didalamnya, karena setiap perjumpaan dan perjalanan kita merupakan harapan yang terbentang di angkasa. Kembali kuutarakan rinduku, harapanku dan keinginanku, meskipun masih dibatasi oleh jarak di antara hati kita yang berpaut, aku berharap perbedaan di antara kita menambah warna sari kehidupan bersama. Aku ingin kita bertumbuh menjadi insan yang penuh kasih sayang kepada sesama, aku ingin kita bertumbuh menjadi insan yang menghargai keindahan, aku ingin kita bertumbuh menjadi insan yang mengabdi kepada kemanusiaan.

Aku yang tersujud – sujud mendamba kehadiranmu hanya untuk perjumpaan berharap doaku terjawab dan mengakhiri kesendirianku. Malam ini rembulan kembali menghadirkan sebuah keindahan yang ingin sekali kuabadikan dalam sebait kata cinta, meskipun tak mampu tetapi aku tetap memahatkan namamu dihatiku. Mungkin engkau takkan pernah tahu, mungkin kalaupun engkau mengetahuinya takkan sudi, tak apa, aku sudah mulai terbiasa seperti ini. Berpikir menggunakan hati sungguh melelahkan, tetapi ternyata mampu menyegarkan dan membuat semangat dalam keseharian. Bait demi bait tertulis di pusara hatiku, kelak kalau aku mati, aku ingin tertulis di nisanku satu kata; kesungguhan. Sungguh utuh seluruh, berkelana menggapai cinta, berlabuh di tatapan tajammu yang menghujam sanubariku. Sekali lagi, tabir egoku luruh ditatapanmu, hingga waktu berlalu aku ingin ini semua mengada dan menjadi ada, bukan mengada – ada, tetapi memang sebuah rasa yang tertoreh dari dalam hatiku untuk mencintaimu. Berbahagialah cinta, demi seseorang yang mencintaimu dan mendambakanmu ini, tersenyumlah untuk datangnya hari – hari indah dihadapan kita, kalaupun ternyata yang kita dapati adalah kepiluan demi kepiluan, bukankah segalanya menjadi indah dirasakan karena menjalaninya berdua. Maka bersuka cita untuk sebuah rasa yang hadir di sanubari kita menyelimuti malam – malam panjang yang hadir di antara doa dan sujud kita. Cheers 😉 LIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s