Rintik Hujan dan Merindumu


Dirintik hujan aku mengenalmu Dirintik hujan aku melupakanmu Dirintik hujan aku berlari menjauhimu Dirintik hujan aku pungut rasa yang berlalu Derasnya sungai mengalir bergegas ke muara Melewati bebatuan ditepian Lenggak-lenggok rintik hujan Menerpa keringnya jiwaku Kucerabut rerumputan dari akarnya Kugenggam dendam tak berkesudahan Gemericik rintik hujan membasahi tubuhku Kubisikkan rinduku kutengadahkan wajahku kelangit kubasuh luka…Read more Rintik Hujan dan Merindumu

Kutemui Dawai Biola Itu


Kesendirianku membawaku ketempat ini Ditemani cerahnya gemintang kulalui jalan ini lagi Kali ini tanpamu namun bayangmu kan selalu disini Menemani sampai dini hari Setapak jalan berbatu Huni benak ini bagai benalu Mengeras hati ini berteriak bertalu-talu Hanya tertunduk malu menatapmu Masih segar dianganku segala tentang kamu Menemani hariku yang jemu tak menentu Masih tentang kamu…Read more Kutemui Dawai Biola Itu

Jelang Kehadiranmu


Demi indahnya sudut senyummu yang coba kuraih Kulalui jalan setapak ini sekali lagi Dan kali ini kututup mataku dalam perjalanan Jalan setapak ini sudah menjadi bagian dari helaan nafasku Kutanyakan kembali kepada telaga nestapa dihadapanku Sudikah kiranya kurenangi kamu Permukaan air yang begitu tenang kulihat lagi bayang wajahmu Menghanyutkan nelangsaku ketepian Kupu-kupu damai menari dihadapanku…Read more Jelang Kehadiranmu

Menua dalam hari dan malam


ada satu saat aku merindumu seperti hari kemarin merindu hari ini rembulan yang tersipu malu menatap gemintang adakah kiranya kamu menyapaku dini hari ini pagi menjelang dan akupun masih melamunkan kamu pagi kemarin dan pagi ini tampak lelah pena ini menari namun tetap tulis bergetar jemari ini tulis kata demi kata membunuh sepi ini sakitnya…Read more Menua dalam hari dan malam